Berita Terbaru :
|

Bagikan Berita
iPad Tak Bisa Transformasi Edukasi?


Jakarta – Apple baru saja memperkenalkan pengalaman buku teks di iPad. Ini menjadi kesempatan besar teknologi memasuki ruang kelas. Sayangnya, masih ada hal yang menghambatnya.
Perusahaan ini menjual buku pelajaran dari McGraw-Hill, Pearson dan Houghton Mifflin dengan harga sebanding dengan versi cetak, dan ini memberi kesempatan para guru untuk menyajikan bahan-bahan mereka sendiri.
Namun, jalan Apple untuk itu masih sangat panjang di mana rintangan logistik untuk membersihkan puluhan ribu buku sekolah tampak jelas sebelum akhirnya perusahaan ini bisa mendominasi ruang kelas seperti caranya mendominasi industri musik.
Grabiec Jenny, guru di Instructional Technology Resource, baru saja membelikan iPad untuk dua ruang kelas ESL di 160 sekolah kabupaten menggunakan dana federal yang dialokasikan untuk siswa dengan kemampuan bahasa Inggris terbatas.
Ia mengaku mudah dalam mendapat persetujuan untuk pembelian tablet-tablet tersebut. Menurut perhitungan Apple, 1,5 juta iPad digunakan di sekolah-sekolah. Namun, di Amerika Serikat (AS) sendiri ada 55,5 juta siswa yang terdaftar di lebih dari 130 ribu sekolah.
Tak peduli bagaimana melihatnya, iPad bukan fenomena di kawasan itu. Hal ini seperti pada kasus laptop pada awal 2002 yang terus didorong untuk diadopsi. Namun pada 2009, survei National Center for Education Statistics menemukan, meski 99% guru sekolah umum memiliki akses ke komputer, hanya 29% menggunakannya selama waktu instruksional dan hanya 3% dari sekolah yang disurvei mengaku memiliki rasio komputer satu banding satu.
iPad memang memiliki beberapa keuntungan dibanding inisiatif laptop, termasuk baterai iPad yang tahan lebih lama. Tak hanya itu, iPad lebih murah dibanding merawat komputer dan bekerja sekaligus sebagai kamera, perangkat GPS dan kamera video.
“Dengan laptop, Anda terjebak konten yang mengkonsumsi. Namun, dengan iPad, Anda bisa merekam video dan melihat ide dengan cara yang baru,” kata Timothy Smith dari Intructional Technology Specialist.
Selain itu, meski buku teks iPad pertama akan dijual seharga US$15 (Rp135 ribu) atau kurang, buku-buku ini tak akan lebih murah dari buku kertas yang dijual sekolah. Kepala sekolah Vineet Madan di McGraw-Hill Higher Education eLabs mengatakan, iBooks lebih disukai dijual kepada sekolah bukan langsung kepada siswa.
Sekolah pun akan memberi siswa akses ke buku-buku tersebut melalui ID pribadi mereka. Kata lainnya, bahkan jika sekolah menggunakan kembali iPad, buku yang ada tak bisa digunakan kembali. Pasalnya, buku-buku ini akan disimpan pada akun iTunes masing-masing siswa.
Sekolah menggunakan kembali buku kertas yang sama selama sekitar lima tahun di mana buku-buku itu biasa dijual sekitar US$75 (Rp670 ribu). Karena tiap buku baru akan dibeli tiap tahun, versi iBook masih akan seharga US$75 (Rp670 ribu) untuk lima tahun.
Mengandalkan iBooks sebagai buku bukan merupakan pilihan layak untuk sekolah umum. Dalam survei FTC 2010 pada sekolah dan programnya, diketahui hampir 80% mengaku koneksi internet mereka tak sepenuhnya memenuhi kebutuhan saat ini.
Sebelum sekolah diperkenalkan dengan perangkat yang terhubung, banyak di antaranya perlu memperkenalkan koneksi internet yang lebih baik. “Ini baru satu masalah logistik,” kaya Madan. Saat ini memang banyak sekolah menggunakan iPad untuk mengajar.
Menurut survei 2011 dari Pearson Foundation, 70% mahasiswa dan perguruan tinggi tertarik memiliki tablet, dan 20% berharap membeli tablet dalam kurun enam bulan ke depan. Penurunan harga iPad juga bisa membuat iPad masuk saluran utama pendidikan. “Ini merupakan perubahan dalam cara berpikir sekolah kabupaten dan di sekolah kabupaten yang lebih besar, waktu yang dibutuhkan akan makin lama,” tutup Smith. [mdr]


Baca Juga :


Posted by Demo on 05.04. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Arsip Berita

Kategori Berita